Naskah-Naskah Lepas Sri Wintala Achmad yang Wajib Anda Kunjungi

Melalui blog K-Sri Wintala Achmad: https://www.kompasiana.com/achmadeswa, Anda dapat membaca naskah-naskah lepas yang menarik untuk dibaca, Naskah-naskah tersebut bukan hanya berupa karya sastra seperti novel, cerita rakyat, cerpen, dan puisi baik menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, maupun Jawa; namun pula berupa artikel-artikel wisata, humaniora, panduan menulis, dsb. Beberapa naskah lepas K-Sri Wintala Achmad yang menjadi artikel utama dan telah dikunjungi lebih dari 1.000 pengunjung dan layak Anda kunjungi, bertajuk:

Media Sosial dan Praktik Perselingkuhan
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5ac92aba5e1373177f4772e2/medsos-dan-praktik-perselingkuhan
Cerpen | Anjing Itu Telah Menjadi Maling
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5ac87d48cbe5234bd7334892/anjing-itu-telah-menjadi-maling
Trik Cantik Mencipta “Prosa Lirik”
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5ac192c7ab12ae051d48f922/trikcantikmencipta-prosa-lirik
Matahari Biru di Langit Lebaran
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5abb69e6cbe5235a3e26c703/matahari-biru-di-langit-lebaran
Cerpen | Lukisan Lelaki yang Mempersembahkan Domba
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5ab86b6c16835f78e140da82/lukisan-lelaki-yang-memersembahkan-domba
Mengenang Jalur Kereta Api Yogyakarta-Palbapang
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5ab707395e13730b80466e72/mengenang-jalur-kereta-api-yogyakarta-palbapang-bantul
Kiat Cerdas Menulis Esai Sastra
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5aab319ddcad5b24902b0ce2/kiat-cerdas-menulis-esai-sastra-dan-memublikasikanya
Cerpen | Orang Gila di Pelabuhan
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5a97b39f16835f70cd768b03/orang-gila-di-pelabuhan
Menguak Sosok Novelis di Balik “Perempuan Berkalung Surban”
https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5a910afddd0fa85139714d02/menguak-sosok-novelis-perempuan-berkalung-sorban

Advertisements

Kepenyairan Ummi, dari Kompasiana hingga Media Cetak

12644991_10206944244178096_1225039091041265330_n.jpg

DALAM dinamika kehidupan perpuisian di Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan media elektronik dan media cetak. Melalui kedua media tersebut, para kreator puisi memublikasikan karya-karyanya. Sehingga karya-karya mereka yang disiarkan melalui radio yang sempat eksis paa tahun 80-an dapat didengar publik. Begitu juga, karya-karya mereka yang dimuat di media cetak (koran, majalah, tabloid, jurnal, buku) dapat dibaca publik.

1934046_10205277406276465_6966921911915374702_n.jpg

Sesudah radio tidak lagi menyiarkan acara baca puisi; koran, majalah, tabloid, jurnal, atau buku merupakan media untuk memublikasikan puisi. Karena ketatnya kompetisi untuk memublikasikan puisi di media cetak, banyak kreator puisi mundur teratur sebelum mendapat legitimasi sebagai penyair. Sementara mereka yang memiliki mental baja dan karya-karya berkualitas berhasil menembus media cetak. Hingga karya-karya mereka dikenal publik dan eksistensi kepenyairannya pun diakui.
Perkembangan selanjutnya, para kreator puisi yang merasa kalah berkompetisi di dalam memublikasikan karya-karyanya di media cetak mulai melirik internet sebagai media alternatif. Melalui Facebook atau blog semisal Kompasiana, mereka memublikasikan karya-karyanya tanpa melalui seleksi redaksi. Mereka cukup bahagia ketika karya-karyanya dibaca publik sekalipun tidak mendapat honorarium sebagaimana para penyair media cetak.

15541527_10209578801644445_8463167738483961479_n.jpg

Kehadiran internet sangat mendukung di dalam upaya menyemarakkan penciptaan puisi dan mengembangkan dunia sastra di Indonesia. Terbukti banyak kreator puisi yang berangkat dari internet berhasil memublikasikan karya-karyanya di media cetak. Tentu saja, karya-karya tersebut layak dipublikasikan sesudah penyairnya senantiasa belajar untuk menciptakan karya-karya berstandar kualitatif.

11018088_10204406459783347_1617591591867904002_n.jpg

Salah seorang kreator puisi yang karya-karyanya berhasil tembus media cetak sesudah rajin memublikasikan melalui internet adalah Ummi Azzura Wijana. Seorang penyair kelahiran Semanu (Gunungkidul) yang karya-karyanya pernah menghiasi rubrik puisi di harian Kedaulatan Rakyat, mingguan Minggu Pagi, majalah Sabana, harian Menoreh, dan lain-lain.
Selain media cetak, Ummi memublikasikan karya-karyanya ke dalam antologi puisi kolektif. Berkat spiritnya yang berkobar, Ummi membacakan karya-karyanya di berbagai kota, khusunya di Yogyakarta.

Dari Tema Cinta hingga Cerita Rakyat
MENURUT hemat penulis, Ummi Azzura Wijana yang semula menggunakan nama pena Umi Azzurasantika mulai mencipta puisi sejak 2013. Pada awal proses kreatifnya, karya-karya Ummi yang cenderung bertema cinta dan religi masih terkesan lugas, transparan, profan, dan belum berhasil menggapi nuansa romantiknya. Unsur-unsur pesajakan di dalam setiap karyanya juga masih terasa dipaksakan.

12239741_1219712794722163_7320752276284841069_n.jpg

Pada awal 2015, Ummi mulai menggarap puisi-puisi bertema kritik sosial. Karena perbekalan pengetahuan di bidang penciptaan puisi belum mencukupi, karya-karya tersebut terkesan sloganis dan sangat profan. Sehingga gagasan yang disampaikan ke dalam karya-karyanya terkesan eksplisit (transparan) dan demonstratif.
Pertengahan 2015, Ummi yang mulai intens bergaul dengan para penyair senior Yogyakarta semakin memahami tentang puisi berstandar kualitatif. Hingga lahirlah beberapa karya Ummi yang merefleksikan pekermbangan proses kreatifnya. Menurut penulis, salah satu karya Ummi yang cukup berhasil yakni puisi bertajuk Menoreh Selepas Subuh. Puisi yang sarat dengan diksi-diksi memikat, majas, metafora, simbol, dan kekuatan imajiansinya tersebut dikutip sebagai berikut:

capture-20180403-233900.jpg
Seirama waktu yang terus merangkak namun tidak terdengar detaknya, proses kreatif Ummi mengalami suatu perkembangan signifikan. Pada awal 2018, Ummi tidak hanya mencipta puisi-puisi bertema cinta, religi, dan kritik sosial; namun pula merambah pada tema cerita rakyat dan wayang. Salah satu karyanya yang menarik untuk dicermati yakni puisi bertajuk Elegi Rara Mendut. Karya yang mendapat sentuhan diskonstruksi dan pemaknaan baru atas cerita rakyat Rara Mendut dan Pranacrita tersebut dikutip sebagai berikut:

capture-20180403-235103.jpg

Proses Kreatif yang Tak Pernah Padam
SATU hal penting yang layak mendapat apresiasi yakni penuturan Ummi. Di mana penyair yang tidak sekadar mencipta puisi namun pula karya artikel ini tidak pernah puas dengan capaian hasil terbarunya. Upaya untuk terus melakukan eksplorasi puitiknya tidak pernah pupus. Upaya untuk mencari ide-ide baru dalam penciptakan karya-karyanya akan dilakukan sampai akhir hayat.

1919225_1244328878927221_5010864319004223955_n.jpg

Pandangan yang bersumber dari kesadaran Ummi tersebut berpijak pada pemahamannya bahwa kepuasan merupakan titik akhir proses kreatif. Karenanya, Ummi tidak pernah puas dengan karya-karya yang telah diciptakannya. “Bukankah karya-karya yang sekarang kita ianggap ‘keren’ belum tentu memikat saat dibaca satu atau dua tahun ke depan?”
Apa yang disampaikan Ummi di muka selayaknya menjadi permenungan bagi setiap kreator. Karenanya setiap kreator perlu meningkatkan kualitas karyanya melalui proses kreatif yang bertahap dan berani bereksplorasi. Ini dimaksudkan agar setiap kreator tidak mengalami stagnasi kreatif. Berlari kencang, namun tetap bergerak di titik yang sama.

-Sri Wintala Achmad-

Sumber:

https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5ac3cac816835f77ff792d53/kepenyairan-ummi-dari-kompasiana-hingga-media-cetak

Cerpen: Matahari Biru di Langit Lebaran

allah-sky-5abb69fc16835f4aed5ddca2.jpg

BAGAIKAN piringan emas, matahari mengambang di atas bentang bukit timur. Langit yang serupa atap kubah biru tak tergores awan. Sepasang burung prenjak berkicauan di dahan pohon jambu yang tumbuh di halaman sudut rumah. Semilir angin serasa mengabarkan kalau puasa telah menginjak hari terakhir. Hari di mana Den Lara Hartati sibuk bekerja dengan pembantunya. Memersiapkan hidangan istimewa bagi Pras. Anak semata wayangnya yang akan mudik beserta istri dan ketiga anaknya dari Jakarta.
Selagi meracik bumbu opor ayam di dapur, android Den Lara Hartati yang tergeletak di ranjang di dalam kamarnya berdering. Sontak wanita berdarah biru berstatus janda itu berlari ke kamarnya. Menerima calling dari menantunya, Hamidah. “Sampai di mana perjalanan kalian?”
“Bandara, Bu.”
“Bukankah Pras bilang, kalian akan datang dengan mobil pribadi?”
“Rencana semula begitu. Karena Mas Pras masih sibuk dengan pekerjaannya, terpaksa kami datang duluan dengan pesawat.”
“Ya, sudah. Kalian tak perlu naik taksi! Biar Jono menjemput kalian di situ.” Den Lara Hartati menutup calling dengan Hamidah. Seusai meletakkan ponsel di ranjang, ia melangkah keluar ke halaman. Di mana, Jono — sopir pribadinya — tengah mengecat pagar besi. “Jon! Tolong jemput Hamidah dan anak-anaknya di bandara!”
“Bukankah Den Ayu Hamidah akan datang bersama Den Bagus Pras dengan mobil pribadi, Den Lara?”
“Pras masih sibuk dengan pekerjaannya. Jadi, Hamidah dan anak-anaknya datang duluan dengan pesawat. Segeralah kamu jemput mereka di bandara!”
Jono meletakkan kaleng cat dan kuasnya di teras rumah. Melangkah terburu menuju garasi. Dengan sedan Nissan perak, lelaki lajang itu menuju bandara. Hanya dalam waktu setengah jam, Nissan perak itu telah berada di antara deretan mobil-mobil di halaman parkir Bandara Adisucipta, Yogya.
Menyaksikan Hamidah dan ketiga anaknya yang tengah berdiri di antara tukang-tukang becak dan sopir-sopir taksi, Jono keluar dari dalam mobil. Melangkah terburu menuju tempat, di mana menantu Den Lara Hartati itu berdiri sembari menggendong anak bungsunya. Bayinya yang masih berusia tujuh bulanan. “Maaf, Den Ayu! Jemputnya agak terlambat.”
“Tak apa, Jon.”
“Mari Den Ayu, segera masuk ke mobil! Kasihan anak-anak.”
“Ya, Jon.”
Disertai Hamidah dan anak-anaknya, Jono melangkahkan kakinya menuju mobil. Sesudah memasukkan seluruh perbekalan Hamidah di dalam bagasi, ia masuk ke dalam mobil. Duduk di jok kemudi di samping Hamidah yang tubuhnya menyerbakkan parfum beraroma melati. Tak seberapa lama, mobil itu bergerak meninggalkan halaman parkir bandara.

***

“Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. La ilaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar. Wa lillahilhamd.”
Suara takbir menggema dari masjid dan langgar. Sepulang menyaksikan takbiran keliling; Den Lara Hartati, Hamidah, dan anak-anaknya berkumpul di ruang tamu. Menikmati opor ayam dan minuman orson rasa anggur. Melepas kangen dengan bersendau gurau.
Waktu melarutkan malam. Den Lara Hartati dan kedua cucunya tertidur pulas di kamarnya. Sementara Hamidah masih terjaga sembari menunggui bayinya. Kedua matanya teramat sulit dipejamkan. Hatinya galau. Lantaran WA ucapan lebaran yang dikirimkan ke ketiga android Pras belum bercentrang biru.
Dengan gerakan kasar, Hamidah beranjak dari ranjang. Meninggalkan bayinya. Keluar dari dalam kamarnya yang terasa pengap. Duduk di salah satu kursi kayu jati berukir di ruangan tamu. Berulangkali menengok ponselnya. Hatinya kian galau. Manakala menjelang subuh, WA ucapan lebarannya pada Pras itu belum juga terbaca.
Hamidah bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah Pras yang tak mudik bersamanya dengan alasan sibuk dengan pekerjaannya itu hanya cara untuk dapat berselingkuh dengan Nurlinda. Bendaharanya yang pernah mengirim WA jorok ke android Pras? Mungkin. Ya, mungkin.
Berulang kali, Hamidah menghela napas panjang untuk melonggarkan dadanya yang terasa tersumpal sebongkah batu. Sekalipun demikian, prasangka buruknya pada Pras yang kian mengganggu pikirannya itu memicunya untuk berteriak lantang, “Dasar lelaki brengsek!”
Den Lara Hartati yang terbangun lantaran dikejutkan dengan teriakan Hamidah itu melangkah menuju ruang tamu. Duduk di kursi di samping menantunya. “Ada apa denganmu, Ndhuk? Siapa lelaki yang kau umpat dengan kalimat sekasar itu? Apakah Pras?”
Hamidah menjatuhkan wajahnya ke pangkuan Den Lara Hartati. “Maaf, Bu! Aku khilaf.”
“Sabar ya, Ndhuk! Kalau Pras belum dapat datang hari ini, mungkin masih sibuk dengan pekerjaannya.”
“Bukan karena itu, Bu,” jawab Hamidah sembari mengangkat wajahnya yang basah air mata.
“Lantas, karena apa?”
“Ketiga android Mas Prass dimatikan.”
“Karenanya, kau berpikir kalau Pras melakukan perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama? Percayalah, Ndhuk! Pras itu, tipe lelaki setia pada seorang istri. Bertanggung jawab pada keluarganya. Sebagaimana rama-nya. Swargi Kangmas Sudibya.”
“Tapi….”
“Sudahlah! Sekarang, ambillah air wudlu! Bersembahyanglah subuh! Sesudah mandi dan sarapan, kita pergi ke alun-alun. Berjamaah sholat ‘id.”
Selepas Hamidah, Den Lara Hartati meninggalkan ruang tamu. Memasuki ruang tidur menantunya. Menggendong cucu bungsunya yang telah terbangun dengan selendang kawung. Membawanya ke teras rumah. Mengembannya sembari menyenandungkan lagu Lela-Lela Ledhung.

***

Alun-alun yang penuh serakan sampah koran itu kembali lengang. Orang-orang berpakaian serba baru yang semenjak fajar berjajar membentuk sap-sap untuk berjamaah sholat ‘id itu telah pulang ke rumahnya masing-masing. Demikian pula dengan Den Lara Hartati, Hamidah, dan ketiga anaknya.
Di ruangan tamu, Den Lara Hartati sibuk melayani tamu-tamunya yang datang untuk ber-khalal bil khalal. Kedua anak Hamidah bermain petasan lombok rawit di halaman dengan anak-anak sebayanya. Sementara Hamidah yang galau lantaran belum terkirimnya WA ke android Pras itu duduk di ruangan keluarga sembari menggendong bayinya. Sibuk dengan remote controldi depan televisi.
Hamidah serasa tersambar petir di siang bolong, manakala menyimak breaking news dari salah satu stasiun televisi: “Telah terjadi tabrakan maut BMW hitam dengan bis trans Jakarta. Kedua penumpang BMW, Nurlinda dan lelaki yang tak diketahui identitasnya tewas. Sementara, sopir melarikan diri….”
Tanpa mencermati kedua mayat korban kecelakaan yang dimasukkan ke dalam ambulans, Hamidah beranjak dari ruang keluarga. Melangkah gontai menuju ruang tamu. Di mana Den Lara Hartati yang barusan mengantarkan tamu-tamunya sampai di depan pintu itu duduk sendirian. “Aku harus segera pulang ke Jakarta, Bu. Mas Pras kecelakan.”
“Apa?” Den Lara Hartati beranjak dari kursi. “Pras kecelakaan? Dari mana kamu tahu?”
“Televisi, Bu.”
“Kalau begitu, kita ke Jakarta sama-sama.”
Hamidah melangkah ke teras rumah untuk memanggil kedua anaknya yang masih bermain petasan dengan anak-anak sebayanya. Dalam sekejap, Hamidah serupa patung hidup. Manakala kedua matanya menangkap BMW hitam yang merangkak pelan menuju halaman rumah mertuanya itu.
Hamidah terasa terseret ke alam mimpi. Tak percaya bila lelaki berpakaian perlente yang keluar dari BMW hitam dan diikuti kedua anaknya itu adalah Pras. Ia pun tak percaya, bila lelaki yang mencium lembut kening bayinya di gendongan itu adalah suaminya.
“Hei! Kenapa kau memandang suamimu seperti itu, Dik?” tanya Pras penuh keheranan. “Apa yang aneh dengan diriku?”
“Bukankah Mas Pras mengalami kecelakaan di Jalan Salemba bersama Nurlinda?”
“Oh, jadi itu yang menyebabkan Dik Hamidah memandangku seperti itu? Sudah! Sudah! Kita masuk ke dalam dulu! Nanti aku jelaskan semuanya.”
Disertai kedua anaknya, Hamidah mengikuti langkah Pras ke dalam ruangan tamu. Sesudah sungkem pada Den Lara Hartati, Pras menjelaskan segala permasalahannya di Jakarta. “Siang kemarin, aku mengadakan rapat dengan Nurlinda dan Pramono stafku itu di kantor perusahaan. Dalam rapat itu, aku meminta Nurlinda agar mengembalikan uang perusahaan yang dihutangnya buat membayar THR pada seluruh karyawan. Karena Nurlinda belum sanggup mengembalikan uang pinjaman yang disalahgunakan untuk kredit BMW dan bersenang-senang dengan Pramono, terpaksa aku mengambil tabungan dan melepaskan tiga androidku untuk membayar THR. Sesudah persoalan itu beres, aku putuskan untuk mudik. Setiba di perbatasan Yogja-Purworeja, aku mengetahui bahwa Nurlinda dan Pramono mengalamai kecelakaan hingga tewas lewat televisi mobil itu.”
Seusai penjelasan Pras, Hamidah merasakan dadanya terbebas dari sebongkah batu yang menyumpalnya. Merasakan bahwa Tuhan sang penabur keadilan di ladang kehidupan telah hadir di ruang tamu di hari fitri itu. Kehadiran-Nya yang sejauh mata batin Hamidah memandang itu serupa matahari biru di langit lebaran.

-Sri Wintala Achmad-

sumber:

https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5abb69e6cbe5235a3e26c703/matahari-biru-di-langit-lebaran

SOEDIRMAN (Riwayat Hidup, Perjuangan, dan Cinta Sang Jenderal)

INFO BUKU BARU

  • Jenis Buku: Sejarah
  • Judul: SOEDIRMAN (Riwayat Hidup, Perjuangan, dan Cinta Sang Jenderal )
  • Penulis: Krishna Bayu Aji & Sri Wintala Achmad
  • Selling Point: Meneladani jejak perjuangan Soedirman, membangun mentalitas bangsa Indonesia.
  • Penerbit:     Araska Publisher

Soedirman.jpg

Sinopsis:

Tidak dapat dipungkiri, banyak generasi muda telah mengalpakan sejarah kemerdekaan Indonesia yang berkaitan dengan perjuangan para pahlawan. Para kusuma bangsa yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi masa depan seluruh rakyat tanpa membeda-bedakan suku, agama, dan ras. Para kusuma bangsa yang selaiknya dicatat dengan tinta emas di lembar-lembar pustaka. Warisan paling berharga untuk menjadi kajian bagi seluruh generasi muda baik di masa sekarang maupun mendatang. Kajian yang bakal memberikan spirit perjuangan di dalam memaknai kemerdekaan melalui karya dan berbagai aktivitas positif lainnya.

capture-20171120-190623

Jenderal Soedirman merupakan salah seorang pahlawan nasional yang turut serta mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaannya. Pahlawan yang tidak mengenal lelah dalam melakukan perjuangan. Hal ini bukan isapan jempol. Terbukti sewaktu dalam keadaan sakit keras (tuberculose), Soedirman masih sanggup memimpin pasukannya di dalam melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda melalui perang gerilya (hit and run). Salah satu strategi perang yang sangat efektif dan cerdas pada masanya.

Sebagaimana para pahlawan lain, semisal: Pangeran Dipanegara, Pangeran Samber Nyawa (Raden Mas Said), Sultan Agung, Cut Nyak Dhien, RA. Kartini, Soekarno, Mohammad Hatta dll, riwayat hidup dan perjuangan Soedirman sangat layak disampaikan ke ruang publik yang lebih luas. Hingga spirit perjuangannya dapat memberikan inspirasi positif. Tidak hanya bagi generasi sekarang, melainkan pula bagi anak-cucu kelak. Sang perwaris perjuangannya.

Dengan demikian, Kehadiran buku SANG JENDERAL: Riwayat Hidup, Perjuangan, dan Cinta Jenderal Soedirman bukan merupakan kerja sia-sia. Mengingat penulisan buku yang menggunakan bahasa ringan namun bernas ini akan memerkaya khasanah sejarah (terutama, sejarah perjuangan) di Indonesia. Buku ini pula diharapkan mampu memberikan sumbang sih positif bagi seluruh masyarakat pembaca. Semoga!

Dapatkan di toko buku:

  • Gramedia
  • Togamas
  • Gunung Agung
  • Solusi
  • Araska Publisher

INDONESIAN CULTURE

MATRILINEAL MARRIAGE IN MINANGKABAU

Written by Tanti Rorita

Translated by Sri Wintala Achmad

 

IN the society of Minangkabau, the descent-line is determined by matrilineal system. The relationship of Minangkabau’s ethnic group is like matrilineal gene, so that a marriage partner must be taken from out of the ethnic group.

p-08.jpg

The Relationship makes influence for some points in the society’s life of Minangkabau. The life of individual being a member in society is influenced by matrilineal system, especially in marriage. The relationship of matrilineal marriage is in special charateristics.

In Minangkabau, the marriage is determined by sarak (Islam law) and custom. It conforms to kato pusako (religious advice) written as follows:

 

Adat basandi sarak,

Sarak basandi Kitabullah,

Sarak mangato

Adat mamakai.

 

Costom hinges on the Islam law,

Islam law hinges on the Koran,

Islam law has words

Custom performs.

By the point it can be conclused that the certainties of Islam-religion and costom have an important role as orientation for the relationship of matrilineal marriage in Minangkabau.

The Sense of Marriage in Minangkabau

IN Minangkabau region, the marriage has a wide and deep sense. In wide sense it can establish new relationship and realize relationship among two families. While, in the deep sense it is visible to applicate the Islam-law. Therefore, this case can be explained that marriage is not just as the companionship of two persons whose diffirent sex in household, but more.

The phenomenon of marriage is to establish a relationship among two families. The new relationship established by marriage shall result sumando and sumanda, ipa (cousin-in-law) and bisan (relationship between parents whose children are married to each other), mintuo (parent-in-law) and minantu (son- or daughter-in law). When the marriage gives a birth of child, then the relationship between induak bako (father’s family) and anak pisang (father’s child) shall be also established. It is as the consequence of the new relationship realized by two families. As result, the involvement between one individual and other shall relate spontaneously for two families.

23b-e1503287849574.jpg

The marriage the relationship is among a couple of individuals, and two families. The relationship of two families shall be given shape by companionship among two Gadang houses. Caused that the marriage is performed by two persons having a diffirent ethnic group, their Gadang house shall be diffirent too. Therefore, the family (member) from one Gadang house and other shall establish a familial relationship. It shall expand a collectivity in the society of Minangkabau.

In deep sense, the marriage follows up the Islam-law. Therefore, in the marriage is to express marriage-contract in front of kadhi (village chief) and testified by some witnesses. Following up the Islam-law has a sense to obey for Allah’s commandments. This is an important part in the life of Minangkabau’s people reflected on expression, as follows: “Adat basandi sarak, Sarak basandi Kitabullah.” (Costom hinges on the Islam law, Islam law hinges on the Koran).

Marriage outside the Ethnic Group

MINANGKABAU’s costom forbids to the same ethnic group marriage. The man from Piliang ethnic group must take his partner from other. He can not be justified to marry with a woman from the same ethnic group. If he breaks for the certainty, as result he shall be object of mockery in himself region. He who has gotten married with a woman from the same ethnic group is named tamakan pokok (forbidding for custom’s certainty). The other way, he is required to get married with a woman from out of his ethnic group.

The society of Minangkabau always lives in group. It is signed by the ethnic group. All of people in one ethnic group are related each other or in one dunsanak (family). Although, they have owned a diffirent Gadang house and village chief, but they are formerly as one descent, one grand mother, and one Gadang house. So, they are not allowed to get married.

Piliang and Melayu ethnic group’s Gadang house is in diffirence. It, of course, is also to its grand mother and descent. They are not related. Therefore, they are permitted to get married based on the Minangkabau’s custom.

The marriage of two persons having a diffirent ethnic group is named a marriage among Gadang houses. As result, there is new relationship among two Gadang houses, two customs, and two families. The marriage performed outside the ethnic group, in addion to avoid the marriage of the related persons, to make a new relationship and kinship in the society. So that, in one region there shall be involvement between one individual and other, individual from one family and one from other, and one family and other. Up to the colectivity of Minangkabau society in the region shall be more complete.

Marriage inside the Region

The matrilineal relationship requires to the marriage in one region. It is meant, a certain person is to get married with other from out of the ethnic group, but not inside it. This case has a closed involvement to certain person’s role in the family or the ethnic group.

IMG_5873X_j3fecc.jpg

Based on the matrilineal relationship, the man of Minangkabau has a multiple role. Each older man has a role as mamak (mother’s adopted younger brother) being responsible to lead his nephew in the original house and the ethnic group. After his nephew has gotten married, then he has a role as the family’s leader being responsible for his children at his wife’s house. This point is expressed in the religious advice written as follows:

Kaluak paku kacang balimbiang,

Daun bakuang lenggang-lenggangkan,

Dibao nak rang ka Saruaso,

Anak dipangku kamanakan dibimbiang,

Urang kampuang dipatenggangkan,

Patenggangkan adat jan binaso.

 

Thumbtack, bean, star fruit have curves

Wild lily’s leaves swing and sway

Brought to the Seruasa’s persons

The child is taken on lap the nephew is led

Village’s persons are considered

Considered so that it is not broken

Man, in addion to have responsibility for his child and nephew, for village’s persons and his custom. He must pay attention and consider for the village’s persons and the prevailing custom of his village. Therefore, he is required to live permanently in his regional surroundings, and to get married with a woman in the village.

When he has gotten married with a woman from out of his region, then his role may not be fulfilled. He shall be far from his nephew, and be separated from his village’s persons, and far from the prevailing custom of his region. If that is occurred, his role as the leader of nephew can not be brought about, and he is not able to consider for the village’s persons and to keep the custom.

Previously, it has been said that marriage forms the new relationship.Through the marriage shall result, such as: sumando and sumandan, ipa and bisan, mintuo and minantu, induak bako and anak pisang. The relationship of families is not just named or said, but among them need to visit each other. When a person’s marriage is performed to other from out of the region, then visiting each other may not be ralized. As result, the sense of marriage among families and Gadang houses shall be decreased.

The marriage in the society of Minangkabau is not actually acquainted with bride price. Therefore, bridegroom does not hand gift over his bride in which it has been required by Islam-religion. In the other region, bride’s family gives to bridegroom’s as much as money or goods as means to fetch her. It is usually named as proposal money. But, an important matter in the marriage of Minangkabau’ society is an exchange of symbolic good among two families involving each other, that is, ring or kris.

In the society of Minangkabau does not forbid for every person to have a wife more than one. A part of persons having a high social status sometimes likes to perfom a polygamy-marriage. The main objectives in the kind of the marriage are for some younger women.

Nevertheless, the marriage among two persons in the region is always based on the logic and real consideration. It must be according to the prevailing custom based on the matrilineal system of relationship in Minangkabau.

 

Source of photos:

http://2.bp.blogspot.com

http://mahligai-indonesia.com

http://images.bridestory.com

 

Short Profile of Writer

23722172_493851794333126_310460726_n

 

 

Tanti Rorita is a young writer being ever studied in UGM, Yogyakarta. She pays attention more for the Traditional Culture of Indonesia. Now, she lives on Sawahlunto, West Sumatera, Indonesia.

BOOK PREVIEW

What is wrong with “Love, give us God”

By: Sri Wintala Achmad

THE Indonesian literature has experienced resurgence. The positive reality being enough proud can not be separated by increasing the passion of center creator in creating the popular literature, such as: cik-lit and teen-lit. Making happy more, the increase of creators is represented with increasing the quantity of literary readers, in which a large part of them is adolescent or younger one.

10636069_10204873811830758_5516120036534033963_n.jpg
Umilia ERHA (dok. Umi)

The other factor which making it completely, the existence of adolescent or younger creators come from feminine circle. As result, the literary books from the former feminine creators, such as: Dewi Lestari, Ayu Utami, Jenar Mahesa Ayu, and from some new comers can be found at book stores, especially in Yogyakarta.

But what apprehensive, when seeing one of literary genres written by feminine creators and begin to be interested by consumers is still limited with novel and short story. Other means, one of literary genres (poem) has not yet had a capability to obtain the discussion of consumers’ market. This matter shall be as publisher’s big obstacle to publish the works of feminine poets to the space of literary appreciators, lovers, or readers. Therefore, the feminine creators’ literary works have been published by publisher, we can say they are lucky creator.

So, how about Umilia Erha, her literature has published by Langit Biru Publisher? Does she feel her creativity was lucky? In the mine time, what publisher really feel bite finger, because the literature produced can not product valuable important financial, or publishing product can not be able to cover cost production?

To answer the question doesn’t need think seriously. Because the answer is clearly, of course creator, called her Umilia, certainly will feel so happy. Because, her literary works written since 1997 up to 2005, not only be habit-ant of her drawer. But her literary works can perform into the public appreciate rooms.

The other side, I believe publisher bite their finger after publishing her book of poems, when only based for motivating financial advantages. But, when saw from function of publisher, as one kind of society’s literary medias, especially poetry, publisher can not be considered useless. Remember, contribution of literature in the life have positive value properly to meditate together. Although confessing that literary works made by creators is impossible when they have strength to built a better life.

 

CBKT: Umi ‘s Meditation in the Modernism

READ Umilia’s poems in “Love, give us God” (CBKT) is really interests. Because, publishing a poetry book of CBKT into the public appreciating room by bilingual (Indonesian and English) has value as a transcendental meditation of creator. That in the modernism it has made human sleep to the materialism, individualism, also make a long distance between human and their God.

97cef97d-2df1-4038-9278-fb927245e265.jpg
The book cover of Cinta, Beri Kami Tuhan (Love,  Give Us God) , the single anthology of poetry which is created by Umilia ERHA

One of 42 poems in CBKT reflected a transcendental meditation of creator in modernism of human life, can read at KERANDA KOTA/THE COFFIN OF CITY (Page 32). The poem that is written by creator, like this:

 

THE COFFIN OF CITY

 

Born by the city sleeping a long of night

Wind offers the cruel blow

Of the future beat, while

Dream makes rotten beside street

Up to winning extends

Stunning thousands jackal’s wild children

And buildings of crime, one by one, are built

With the spread of various flowers

Is this a dearest’ white code, though

It is just the most eloquent pronunciation

 

2000

 

The literature above can give a means, creators assume city like a place for fighting. Till human like a thousands of jackal’s wild children, do everything cruelly to snatch modernism’s dreams each other. Of course, people have good capability has a good chance for make their dream to be real. So, the other can just lament over their dream like a left hope in side of the street, like trash in the basket.

Modernism not only signed by separated of class, but buildings of crime also built in the other side of elegance. The installation not only for prostitute’s area, bar, blue cafe, hotels, but this buildings be build at place when there’s a rules, and also morality begun by various practice of crime.

Bad reality caused of miss understanding people to modernization substance, exactly made something means to creators as God’s sign to people so that they turn to the light almighty. Not just the most eloquent pronunciation in the holy, although that is included in sastra gumelar.

Creator based function of pray not just pronunciation, like included in the prayer of night (page 40), third couplet: //I hope my prayer on this night’s face/it is not just as a pronunciation of words/but passing away to be disappeared/like the dew rolling on leaf/and steaming in the burnt day/when the sun rises higher//.But the function of pray like the words in second couplet, that is://I hope my prayer on this night’s face/it always vibrates the restless soul/being out of breath in hurt/like the leaves blown/by the gentle wind of the morning, and/quenching of heart’s thirst//.

The creator’s opinion about function of pray like included in DOA MALAM poetry, also wrote again by creator in DALAM SUJUD poetry. Manner completely, poetries including of pray function as form as surrender or human repentance for God.

 

IN THE PROSTRATION

 

The dying soul was deeply gotten stuck

The dwarfish soul was lied forward in prostration

My rotten organs called out, “o, God

Naked I am from the dark days’ dots

I have lost the petrified garrulous ulcer

The result of last wind

 

1997

 

CBKT: Human’s Love Meditation

THROUGH book of poems, can find as result as transcendental experience’s creator of their meditation, and also be the love story of MIRA and KABERA, creator’s friend. The love story when was not beautiful, but with many challenge. Because, KABERA has wife and two children, they are man and women.

In spite of that, love story of MIRA and KABERA full of challenges of them family can not make them give up. Although, they believe fate of human love depend of God. Not surprised when they proud love gave God. Because, only God, they give their love in their soul so it can be process naturally. So far, look at Umilia’s poems, LOVE, GIVE US GOD (Page 38), that wrote like that:

 

LOVE, GIVE US GOD

 

Man spoke in the silence

While, Eva’s body

In the hindered whisper made cinders

:”love, give us God!”

 

2003

 

The love story of MIRA and KABERA being inspiration for creator to create part of their literature at CBKT can not be looked for black and white sides. Other means, the love story of them is not absolutely orientation to norm when has been long time in the human environment. But, should be based from understand the means of love that always blanket of mysterious fog. This is that make strong assumption that unfaithfully in love story can not be claim as absolutely mistakes.

Although like that, MIRA feel that their love for KABERA is a forbid loving and be the huge sin. Caused that, she feels regret why she meet KABERA, and burning love that no effect to think before. The remorse make MIRA crowded, or Eva’s body whisper made cinders, “Love, give us God!”

MIRA’s regret realize KABERA, so that her sweet heart loving the other girl. This matter completely finished by Setya Bangun Suharto, the writer of empirical experience of MIRA’s love through creator says, that is: KABERA is realized that he has to move, let MIRA to make aromatize the other garden. That literature wrote by her like that:

 

WHERE SHALL THE WIND BRING YOU AWAY

 

Where will the feet’ step you draw away

Going along the tops of hill

Wading through steep and valley

Breaking of sky

Finding a meaning of peace

In a small part of breath in the wild city

You compel to free my hands

Seeking a new real person

Look at, the trace of blood

Left from your feet’s trace

Has not it been enough yet?

Who knows, I do not also know

Are not these hands

Being strong to keep you?

 

2004

 

Becoming of MIRA and KABERA love story that not too sad in proportion to JULEY and ROMEO,  LARA MENDHUT and PRANACITRA, or INTAI and SAMPEK love story, but can know that feel pleased love is not for forever, sadness, and also the death. Caused of the love not make human on real position, be medium freedom for other. Not as medium or authority for other. Hopefully this comprehension can make us realize, that love is a gift from God, when the role of love hopefully can give a spiritual light in human’s soul.

 

Latest Notes

ESCAPED from the mean of CBKT poems, the presence of Umilia in literature world of Yogyakarta and Indonesia still get space for her presence. Because she not just luster the literature world, but also give creative stimulation for feminine poets, especially for them who still be faithful with their creative process.

So, the publisher’s aim to make grown a literature’s creativity process, in the women space can be real. Till publishing the poetry book of CBKT, is not useless. The appreciation is proper to give. Of course, appreciation can not be forever for finance, but it can say critic and suggestion to build up. This is important to motivate publisher that have commit to grown up literature’s world.

The constraint tomorrow will be face by publisher. But their factor might be courage to the professionalism and loyalty effort to make publishing real, especially in the poem or literature. Through loyalty and professionalism, he good product will be find, when the advantage not just on developing literature, but for increasing writer presence and publisher that the aim go to real advantages for them.

KENAPA HARUS MENULIS

ok  16

MASYARAKAT tradisi cenderung mengenal budaya mendengar dan lisan ketimbang budaya membaca dan menulis. Sehingga dongeng yang dituturkan melalui lisan oleh para orang tua zaman dahulu sangat memanjakan pendengaran anak-anak sebelum berangkat tidur. Namun seiring perkembangan zaman, budaya mendengar dan lisan mulai tergeser dengan budaya membaca dan menulis. Suatu budaya yang mencerminkan perilaku kehidupan masyarakat modern. Masyarakat yang lebih suka membaca dan menulis baik karya ilmiah (makalah, kertas kerja, tesis, skripsi, dan disertasi); artikel (opini, esai, dan berita); apresiasi dan kritik seni; naskah lakon (naskah drama atau scenario; resensi (buku, drama, dan film); puisi, prosa lirik, cerpen, maupun novel (cerita bersambung).

Bagi masyarakat modern, membaca dianggap lebih efektif ketimbang mendengar sebagaimana yang lazim dilakukan oleh masyarakat tradisi. Karena dalam membaca, seorang akan mendapatkan informasi dan pengetahuan tanpa tergantung secara langsung kepada orang lain. Seorang pembaca akan merasa lebih merdeka ketimbang seorang pendengar. Dikarenakan, aktivitas tersebut dapat dilakukan sendiri. Kapan dan dimana saja. Dilakukan sambil tiduran. Dilakukan sambil duduk santai di teras rumah, di taman, di stasiun, atau di bandara; saat menunggu atau naik bus, kereta api, kapal, atau pesawat udara tanpa mengganggu kenyamanan orang lain.

Dalam hal menulis sebagaimana yang dilakukan para ilmuwan; pengamat politik, budaya, ekonomi, sosial; sastrawan (novelis, cerpenis, penyair); esais; dan para penulis pada umumnya dianggap lebih efektif di dalam menyampaikan gagasannya kepada banyak pembaca. Hal ini yang membedakan antara penulis dengan pendongeng yang hanya memiliki beberapa pendengar. Disamping itu, karya tulis dianggap lebih abadi ketimbang karya tutur yang hanya tercatat dalam ingatan seorang pendongeng tersebut.

A. Menulis dan Manfaatnya

Telah sekilas disinggung di muka, menulis merupakan salah satu cara untuk menyampaikan gagasan (ide) positif kepada publik atau masyarakat pembaca. Tentu saja, gagasan yang disampaikan melalui salah satu jenis tulisan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam hal pengetahuan yang positif, inspiratif, dan rekreatif pada publik. Bukan sebaliknya, tulisan tersebut bersifat provokatif yang sarat unsur pornografi dan SARA (Suku-Agama-Ras).

Dengan menulis, seorang akan mempertajam pisau intelektual dan rasa (sense)-nya. Karena seorang penulis selalu dituntut untuk membaca baik buku (sastra sinerat) yang digubah oleh penulis lain maupun alam dan peristiwanya (sastra gumelar). Melalui kegiatan membaca sebagaimana yang diajarkan malaikat Jibril kepada nabi Muhammad SAW, seorang penulis akan dapat berbagi pengalaman empirik serta pengetahuannya melalui karya tulis kepada orang lain. Dari sinilah, peran seorang penulis dapat disejajarkan dengan seorang pewarta yang akan memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Peran seorang penulis adalah sangat besar. Melalui karya-karya tulisnya, seorang penulis turut aktif dalam mencerdaskan bangsa. Disamping itu, seorang penulis turut memajukan perkembangan suatu negara. Sebab tanpa bangsa yang cerdas, negara akan tetap mengalami kemunduran. Bahkan tanpa bangsa yang cerdas, suatu negara akan menjadi sasaran empuk bagi kaum imperialis untuk mencengkeramkan cakar-cakar kekuasaannya.

Bagi seorang yang menjadikan kegiatan menulis sebagai profesi pula akan mendapatkan manfaatnya. Seorang penulis yang selalu aktif mempublikasikan karya-karyanya ke media massa atau penerbit akan secara otomatis dapat menopang kebutuhan ekonominya. Karenanya jangan heran, bila banyak penulis profesional yang tinggal di negara maju akan dapat hidup dengan layak.

Memang, tidak menutup mata. Bahwa masih banyak penulis yang tinggal di negara terbelakang (sedang berkembang) belum mampu hidup dengan layak. Hal ini dikarenakan honorarium atau royalty yang didapat seorang penulis masih dibilang relatif rendah, selain masih dibebani pajak pendapatan. Sungguhpun demikian, seorang penulis profesional yang cerdas dalam membaca geliat zaman dan pasar niscaya akan mendapatkan peluang untuk mampu memenuhi kebutuhan ekonominya. Dengan demikian disimpulkan, bahwa kegiatan menulis di era modern dapat diidentikkan sebagai kegiatan ekonomi kreatif yang dapat membangun daya nalar dan memperbaiki nasib kehidupan penulis itu sendiri.

B. Apa yang Harus Ditulis

Banyak kita jumpai penulis yang hanya dapat menulis salah satu jenis karya tulis. Namun tidak menutup kenyataan, bahwa banyak penulis yang dapat mencipta banyak genre karya tulis. Pengertian lain, mereka dapat mencipta karya ilmiah, artikel, resensi, aprsiasi dan kritik seni, serta sastra, semisal: naskah lakon, puisi, cerpen, atau novel.

Terlepas dari pendapat di muka, seorang penulis harus memahami berbagai genre karya tulis. Hal ini tidak dimaksudkan, agar setiap penulis untuk dapat menulis berbagai genre karya tulis. Namun untuk memilih genre karya tulis mana yang harus dikuasai hingga mencapai tataran profesionalitas. Adapun penjelasan tentang berbagai genre karya tulis adalah sebagai berikut:

1. Karya Ilmiah

Karya Ilmiah adalah karya seorang ilmuwan yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang diperoleh melalui kepustakaan, kumpulan pengalaman, serta pengetahuan orang lain sebelumnya. Karya ilmiah terdiri dari makalah, kertas kerja, tesis, skripsi, dan disertasi.

2. Artikel

Artikel adalah tulisan ilmiah yang disajikan dengan format dan bahasa populer, sehingga menarik untuk dibaca dan mudah dipahami. Artikel sendiri yang kerangka isinya lebih bebas itu dapat berupa opini, esai, atau berita. Adapun pengertian dari opini, esai, dan berita adalah sebagai berikut:

a. Opini

Opini merupakan karya tulis yang digubah secara bebas serta gaya bahasanya sesuai karakter penulis. Pengertian lain, penulis dapat menggunakan gaya bahasa yang humoris, reflektif, kontempaltif, atau analisis ilmiah.

b. Esai

Menurut kamus Bahasa Indonesia, esai disebut sebagai karangan prosa yang membahas masalah secara sepintas dari sudut pandang pribadi penulis. Esai dapat dikatakan sebagai tulisan berisi gagasan seorang tentang sastra, seni, dan kebudayaan.

c. Berita

Berita merupakan karya tulis yang biasanya ditulis wartawan media massa. Dalam penulisan berita, seorang wartawan harus obyektif sesuai realitas peristiwa yang terjadi.

3. Resensi

Resensi berasal dari kata resentie (Belanda) atau recensio (Latin) yang artinya mengulas kembali. Resensi adalah penilaian terhadap karya. Karya yang dinilai dapat berupa buku, film, dan drama. Menulis resensi meliputi: kelebihan, kekurangan, dan informasi yang diperoleh dari karya untuk disampaikan pada publik.

4. Apresiasi dan Kritik Karya Seni

Terdapat perbedaan antara pengertian apresiasi karya seni dan kritik karya Seni. Untuk memahami perbedaan keduanya, simak uraian di bawah ini:

a. Apresiasi Karya Seni

Apresiasi Karya seni merupakan tulisan yang merefleksikan pemahaman terhadap seluk-beluk karya seni dan segi-segi estetikanya. Tulisan tentang apresiasi karya seni mencerminkan proses penghayatan karya seni yang diamati serta penghargaan terhadap karya seni dan penciptanya.

b. Kritik Karya Seni

Kritik karya seni merupakan tulisan yang bersifat menanggapi karya seni. Perbedaannya dengan apresiasi karya seni, bahwa kritik karya seni hanya berfokus pada kritik yang bertujuan untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni. Keterangan akan kelebihan dan kekurangan karya seni dipergunakan dalam beragam aspek, terutama sebagai bahan untuk menunjukkan kualitasnya.

5. Naskah Lakon

Naskah Lakon ditulis berdasarkan apa yang dilihat, dialami, dibaca, dan diceritakan oleh penulis kepada orang lain. Naskah lakon dapat dipahami sebagai teks yang harus dihafal oleh seluruh aktor dalam pertunjukan teater di atas panggung.

6. Puisi

Puisi merupakan salah satu genre karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair berdasarkan imajinasi, dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa serta struktur fisik dan batinnya.

7. Prosa Lirik

Prosa lirik merupakan salah satu karya prosa yang ditulis dalam bentuk puisi. Karena berisi cerita, prosa lirik ditulis dengan menggunakan bahasa naratif, serta dialog antar tokoh.

8. Cerpen

Cerpen merupakan salah satu genre sastra yang memaparkan kisah atau cerita tentang manusia beserta seluk-beluknya. Cerpen dapat dimaknai sebagai karangan fiktif yang isinya sebagian kehidupan seseorang dan diceritakan secara ringkas dengan berfokus pada satu tokoh. Cerpen dapat disebut dengan cerita pendek. Dikarenakan, karya tersebut ditulis kurang dari 10.000 kata (kurang dari 10 halaman). Disamping itu, cerpen hanya memberikan kesan tunggal dan memusatkan diri pada satu tokoh dan satu situasi saja.

9. Novel

Novel (Bahasa Perancis: novella) merupakan karya fiksi yang ditulis secara naratif dan biasanya dalam bentuk cerita. Novel ditulis lebih panjang (± 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen. Disamping itu, novel tidak dibatasi struktur, metrik sandiwara, atau sajak. Pada umumnya, novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari dengan menitikberatkan pada sisi-sisi yang aneh.

C. Strategi Jitu Menjadi Penulis Handal

Penulis handal adalah penulis yang tahan banting dan selalu berusaha meningkatkan kualitas karyanya. Sehingga dengan 2 langkah tersebut, seorang penulis akan selalu survive dan karya-karyanya akan dibutuhkan oleh media massa dan penerbit. Berikut adalah strategi cerdas untuk menjadi penulis handal:

1. Setiap Hari Duduk di Depan Laptop (Monitor Komputer)

Bagi seorang penulis yang ingin profesional dan handal di bidangnya harus setiap hari duduk di depan laptop (monitor komputer) untuk menulis naskah. Di dalam menulis naskah, seorang penulis harus menetapkan lamanya jam kerja. Pengertian lain, jangan tinggalkan naskah sebelum jam kerja berakhir.

2. Jangan Menulis pada Malam Hari

Sebaiknya kegiatan menulis jangan dilakukan pada malam hari. Disamping menentang hukum alam dimana malam untuk istirahat, menulis pada malam hari dapat mengganggu kesehatan tubuh. Akibatnya bila sakit, penulis tidak akan mampu merampungkan naskahnya sesuai dead line yang ditetapkan.

Sebaiknya mulailah menulis sejak pagi hari. Karena sesudah bangun dari tidur malam dan melakukan olah raga ringan, seorang penulis akan menjadi fresh pikirannya. Berkat pikiran fresh, seorang penulis akan mampu melahirkan karya-karya yang brilliant.

3. Jangan Menunggu Mood

Seorang penulis profesional dan handal tidak menunggu mood, namun harus menciptakan mood. Karenanya, semangat untuk selalu menulis setiap hari dengan jam yang ditetapkan agar selalu dijaga. Jangan sampai kendor. Sekali kendor, naskah yang tengah digarap bisa jadi tidak akan pernah selesai.

4. Banyak Membaca

Membaca buku, majalah, dan koran merupakan kewajiban bagi seorang penulis. Dengan banyak membaca, seorang penulis akan memperluas cakrawala pengetahuannya. Dengan pengetahuan yang luas, penulis akan mendapatkan ide untuk dituang ke dalam karyanya. Disamping membaca buku, seorang penulis harus banyak membaca alam. Banyak mengunjungi tempat-tempat alami yang dapat memberikan inspirasi. Banyak mengunjungi museum atau situs-situs sejarah yang dapat memberikan tambahan pengetahuan. Hal lain yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang penulis adalah membaca kondisi sosial di lingkungan sekitarnya. Karena ide dapat muncul dari kondisi sosial yang tengah bergejolak. Sebab itu, mengamati dan merenungkan terhadap kondisi sosial merupakan kewajiban seorang penulis.

5. Fokus pada Satu Naskah

Untuk dapat melahirkan naskah yang baik, seorang penulis profesional dan handal tidak akan beralih pada naskah lain sebelum naskah yang tengah digarap itu selesai. Sebab sekali beralih ke naskah lain, naskah yang tengah digarap dapat terbengkalai. Apabila naskah yang terbengkalai itu kembali dilanjutkan, hasilnya akan tidak akan maksimal. Karena ada irama emosi penulis yang terputus.

6. Tidak Kenal Putus Asa

Seringkali seorang penulis menghadapi masalah dengan naskah yang tengah digarapnya. Ketika menggarap naskah, penulis mengalami kesulitan untuk melanjutkan atau menyelesekainnya. Bila Anda mengalami masalah ini, jangan cemas dan putus asa. Sebaiknya Anda sejenak melakukan refreshing untuk kembali menyegarkan pikiran. Bila pikiran kembali segar, Anda akan kembali menemukan kemudahan dan semangat baru untuk kembali menggarap atau menyelesaikan naskah tersebut.

7. Memiliki Semangat Baja

Seorang penulis profesional dan handal harus memiliki semangat baja. Tidak mudah putus asa, bila naskahnya ditolak oleh media massa atau penerbit. Intinya, seorang penulis harus terus menulis. Terus meningkatkan kualitas karyanya. Terus mengirimkan karya-karyanya ke media massa dan penerbit. Hingga karya-karya tersebut berhasil dimuat di media massa atau diterbitkan oleh penerbit. Hanya dengan cara demikian, seorang akan survive dan dapat memenuhi kebutuhan ekonominya melalui karya-karyanya.

8. Menjalin komunikasi dengan Sesama Penulis

Seorang penulis yang ingin maju dan berkembang harus selalu menjalin komunikasi kreatif dengan sesama penulis. Karena melalui komunikasi tersebut, seorang penulis akan termotivasi untuk selalu berkarya. Bila Anda seorang yunior, hendaklah selalu melakukan komunikasi dengan penulis senior. Melalui penulis senior, Anda akan mendapatkan pengetahuan seputar dunia kepenulisan. Tidak hanya berkaitan dengan bagaimana menulis yang baik, namun pula bagaimana menerapkan strategi agar karya tulis Anda dapat dimuat di media massa atau penerbit.

D. Proses Menulis

Untuk menjadi seorang penulis profesional dan handal diperlukan pengetahuan tentang proses menulis yang baik. Lantas bagaimana proses menulis yang baik? Menurut pendapat dari para ahli, bahwa proses menulis yang baik itu terdiri dari lima tahapan, yakni:

1. Pengamatan

Langkah pertama sebelum menulis, seorang penulis harus melakukan observasi terhadap obyek, misal obyek tentang lingkungan pantai. Di dalam lingkungan pantai tersebut, terdapat point-point yang daapt diamati oleh seorang penulis, semisal: kehidupan orang-orang pantai, sampah dan limbah yang mengancam pelestarian ikan-ikan, pantai sebagai tempat wisata, dll.

2. Pencerapan

Langkah ke dua adalah pencerapan. Pada tahap ini, seorang penulis harus memilih salah satu point dari obyek lingkungan pantai yang telah diamati. Pilih salah satu point yang paling menarik untuk diangkat ke dalam karya tulis. Sebab tanpa ketertarikan pada salah satu point dari obyek pengamatan, penulis pun akan setengah hati untuk menulisnya. Bila menulisnya setengah hati, jangan diharap masyarakat pembaca akan tertarik untuk membaca tulisan itu sesudah dimuat di media massa atau dipublikasikan oleh penerbit dalam bentuk buku.

3. Metabolisme

Langkah ke tiga adalah metabolisme (pencernaan). Selama tahap ini, seorang penulis harus mencari data untuk memperkuat gagasan yang akan dipaparkan ke dalam tulisannya. Data-data tersebut dapat diambil dari pustaka atau tulisan-tulisan lepas, serta hasil wawancara dengan pihak-pihak terkait.

4. Penuangan

Langkah ke empat adalah penuangan. Dalam tahap ini, penulis tinggal memaparkan gagasannya yang telah diperkuat dengan berbagai referensi valid ke dalam karya tulis.

5. Revisi (Editing dan Koreksi Aksara)

Langkah terakhir adalah revisi. Sesudah karya tulis rampung, seorang penulis harus melakukan revisi baik editing maupun koreksi aksara. Sebaiknya selama proses ini, penulis mem-print out naskahnya. Sebab mengedit dan mengoreksi aksara yang paling efektif, ketika penulis langsung membaca naskah yang telah di-print out. Sesudah selesai, penulis baru menstransfer hasil editing dan koreksi aksara dari lembar-lembar print out ke lembar-lembar halaman Microsoft Word.

E. Catatan Akhir

Apa yang diuraikan di muka hendaklah dijadikan bekal bagi penulis yang ingin profesional dan handal di bidangnya. Seorang penulis yang harus mengetahui perannya, esensi dan manfaat menulis, genre karya tulis, strategi menjnadi penulis handal, serta kelima tahapan dalam proses menulis. Tanpa mengetahui hal-hal prinsip tersebut, seorang penulis akan diibaratkan serupa bangunan tanpa pondamen yang kokoh. Akibatnya, seorang penulis tidak akan pernah sampai ke tataran profesional, serta hasil karyanya tidak membuahkan sesuatu yang optimal. Tidak bermanfaat bagi diri dan masyarakat luas.

Dikutip dari:

Panduan Lengkap Menjadi Penulis Handal, Sri Wintala Achmad, Araska, Juni 2015.

PESAN EDUKATIF PAK KATNO MELALUI LELAGON DOLANAN BOCAH

SEJAK listrik hingga televisi masuk desa, banyak anak menghabiskan waktunya di ruang keluarga. Menyaksikan televisi sesudah pulang sekolah, habis makan malam, atau ketika hari libur. Mereka mulai jarang mengisi waktu luangnya untuk bermain sambil menyanyikan lelagon dolanan bocah. Mereka tidak lagi menyanyikan lelagon Lepetan, Jamuran, Jamur Cepaki, Jaranan, Widara Kayun, Gajah-Gajah, dll sambil bermain saat malam purnama.

Ki_Hadi_Sukatno
Pak Katno, kreator lelagon dolanan bocah

Fakta menunjukkan bahwa pada era televisi, terlebih era smartphone atau tablet, banyak anak tidak mampu menjawab spontan bila ditanya mengenai macam dolanan atau lelagon dolanan bocah yang pernah dimainkan atau dinyanyikan oleh kedua orang tua (kakek-nenek) mereka di masa silam. Banyak anak mulai (sudah) tidak mengenal budaya dan seni tradisi warisan leluhurnya sendiri yang sarat dengan pesan-pesan edukatif.

Perihal anak-anak yang tidak mengenal lagi tentang budaya tradisi warisan leluhurnya merupakan keprihatinan tersendiri. Namun hal itu sering dimafumi oleh kebanyakan orang Jawa sendiri dengan ungkapan, “Nut jaman kelakone.” Perkembangan zaman niscaya mengikis budaya lama dengan arus budaya baru yang berkedok modern (Barat).

Sungguhpun banyak orang memafumi, namun keprihatinan tentang anak-anak yang tidak mengenal budaya leluhurnya harus disikapi dengan langkah-langkah konkret. Salah satunya mengenalkan kembali macam dolanan bocah, khususnya lelagon dolanan bocah, kepada anak-anak melalui jalur pendidikan formal. Selain itu, pesan-pesan edukatif yang terkandung pada syair lelagon dolanan bocah pula harus diperkenalkan. Sehingga anak-anak bukan sekadar fasih melantunkan lelagon dolanan bocah, namun dapat menerapkan pesan-pesan edukatifnya dalam kehidupan keseharian.

Lelagon Dolanan Bocah dan Pak Katno

Bila berbicara mengenai lelagon dolanan bocah, niscaya mengingatkan pada Pak Katno (Hadi Sukatno). Seorang kreator lelagon dolanan bocah kelahiran Delanggu (Klaten) 26 Mei 1915 dan meninggal di Yogyakarta pada tanggal 10 November 1983. Seorang seniman yang pernah ditempa di lingkungan perguruan tinggi Taman Siswa Yogyakarta.

Sebagai kreator lelagon dolanan bocah, Pak Katno tidak diragukan lagi. Di atas duapuluh karya tembang dolanan bocah yang direkam dalam bentuk kaset, VCD, atau DVD dengan melibatkan anak-anak sebagai vokalis itu telah diciptakannya. Karya-karyanya, antara lain: Anti, Ajar Maca, Aku Wis Sekolah, Bang Bang Wis Rahina, Bibis, Bocah Nakal, Gajah-Gajah, Iwake Sliweran, Jamur Cepaki, Jaranan, Kae-Kae, Kembang Jagung, Kula Boten Dora, Lepetan, Mbok Uwi, Pitik Walik, Sarsur, Widara Kayun, Yo Padha Suka-Suka, dll.

Dalam perkembangannya, tidak semua karya Pak Katno dikenal masyarakat luas. Pengertian lain, masyarakat hanya mengenal beberapa karya, terutama yang pernah diaransemen ulang oleh kelompok kerawitan atau  kesenian lain, semisal: Jaranan (Saraswati, seni jaranan Kuda Manggala Tulung Agung);  Bang Bang Wis Rahina (Saraswati, Kyai Kanjeng); Aku Wis Sekolah (seni reyog kendang atau seni jaranan Kuda Manggala Tulungagung).

Sungguhpun tidak semua karya dikenal masyarakat luas, namun peran Pak Katno dalam upaya memerkenalkan salah satu budaya tradisi Jawa serta memberikan pendidikan budi pekerti kepada anak-anak melalui lelagon dolanan bocah layak mendapatkan apresiasi. Sehingga tidak heran, kalau Pak Katno mendapatkan penghargaan seni dari pemerintah pada tanggal 6 April 1981.

Pesan-Pesan Edukatif

Lelagon dolanan bocah karya Pak Katno tidak hanya bersifat rekreatif bila disimak dan dinyanyikan, namun pula mengandung pesan-pesan edukatif bila diresapi maknanya. Sebagai misal karya Bang Bang Wis Rahina dan Gumregah mengajarkan kepada anak-anak untuk bergegas mandi dan menyelesaikan pekerjaan sesudah bangun pagi hari. Sesudah semua pekerjaan diselesaikan, anak-anak bisa bermain Brok-Brokan, Jethungan, atau Jamuran bersama kawan-kawan sebayanya. Pesan edukatif ini disampaikan dalam karya Yo Padha Suka-Suka.

Melalui karya Aku Wis Sekolah, Pak Katno menyampaikan wewarah kepada anak-anak yang sudah bersekolah harus bergembira dan rajin saat belajar. Karena dengan bergembira dan rajin belajar, anak-anak akan dapat meraih cita-cita yang didambakan.

Karya Widara Kayun mengandung pesan edukatif yakni apabila anak-anak tengah pergi ke sekolah, hendaklah tidak mudah tergoda dengan ajakan yang menyesatkan. Sementara, karya Ajar Maca mengajarkan kepada anak-anak agar suka membaca. Dengan membaca, anak-anak akan menambah pengetahuan yang merupakan bekal masa depan.

Karya Pak Katno yang bertajuk Kula Boten Dora mengandung pesan edukatif agar anak-anak tidak suka berbohong. Sebab anak-anak yang suka berbohong tidak akan dipercaya oleh kawan-kawannya. Selain itu, karya Bocah Nakal memberikan ajaran agar anak-anak tidak nakal, kalau tidak ingin mendapatkan celaka dan dijauhi kawan-kawannya.

Bila ditilik dari keseluruhan karya, Pak Katno bukan sekadar memberikan pesan edukatif, namun pula mengajak anak-anak untuk mengenal lelagon dolanan bocah yang semula dinyanyikan oleh generasi sebelumnya saat malam purnama. Lelagon dolanan bocah yang dapat membangun suasana rekreatif, sehingga anak-anak kembali dapat berkreasi untuk meraih prestasi lebih tinggi.

Karena lelagon dolanan bocah karya Pak Katno sarat dengan pesan edukatif dan mampu membangun suasana rekreatif sesudah sekian hari sibuk belajar di sekolah; maka sekiranya lembaga pendidikan formal (PAUD, TK, SD) perlu untuk memerkenalkan karya-karya Pak Katno kepada seluruh anak didik.  Sehingga mereka akan dapat mengenal warisan leluhurnya dan mencerap pesan-pesan edukatif di dalamnya. (Sri Wintala Achmad)

Cilacap, 26 April 2017

Catatan: Catatan budaya ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 2017.

PENCIPTAAN NOVEL SEJARAH: DARI KLAYAPAN HINGGA AROMA KEMENYAN JAWA

21728022_146565089278455_609927267206079821_n

“MENULIS itu gampang!” Demikian kalimat sakti yang selalu saya sugestikan pada diri saya agar dapat menulis karya sastra genre apapun – puisi, cerpen, esai, dan novel. Bahkan kalimat sakti tersebut saya gunakan agar dapat menulis karya tulis yang tidak berhubungan dengan sastra, semisal karya tulis bertema sejarah, kearifan Jawa, budaya tradisi, cerita wayang, dan lainnya.

Kenapa kalimat sakti “Menulis itu gampang” terus saya sugestikan ke dalam diri saya? Mengingat kerja penciptaan, terutama karya sastra, sesungguhnya susah. Sebab itu, saya selalu melawannya dengan mengucapkan dalam hati kalimat “Menulis itu gampang”. Sehingga karya sastra yang tengah saya garap bisa dirampungkan. Tidak berhenti di tengah jalan.

Mencipta karya sastra itu sesungguhnya susah, karena harus memenuhi standar kualitatif. Artinya, karya sastra yang diciptakan bukan sekadar hadir, namun harus mampu memaknai kehadirannya. Mencipta karya sastra bukan asal jadi, namun harus memerhatikan unsur bentuk dan isi. Memikirkan estetik, makna implisit, serta kontribusi dalam memberikan inspirasi bagi pembaca. Hal ini merupakan tugas berat namun mulia yang selalu melecut saya untuk terus belajar mencipta karya sastra berstandar kualitatif. Sebagaimana pertama kali saya belajar mencipta karya sastra (puisi) yang dimulai pada tahun 1984.

Ketika belajar mencipta karya sastra yang saya awali dengan genre puisi ternyata banyak manfaatnya. Proses penciptaan puisi yang selalu menekankan pemilihan kata yang tepat dan menjaga efektivitas kalimat selalu saya gunakan dalam mencipta cerpen, novel, atau esai. Karenanya dalam penciptaan cerpen, novel, atau esai; saya tetap melakukan revisi sebagaimana saat mencipta puisi.

Sungguhpun terdapat kesamaan dalam proses penciptaan puisi, cerpen, novel, dan esai; namun tetap memiliki perbedaan. Dalam mencipta puisi, cerpen, dan novel; saya selalu menggunakan imajinasi, intuisi, dan sense terlebih dahulu sebelum menggunakan logika saat merevisi. Sebaliknya dalam mencipta esai, saya menggunakan logika terlebih dahulu sebelum menggunakan intuisi, imajinasi, dan sense saat merevisi. Hal ini dimaksudkan agar esai tidak terkesan kering dan kaku sebagaimana karya ilmiah.

Dalam mencipta puisi, cerpen, dan novel, saya pun selalu menerapkan proses yang berbeda. Di dalam menulis puisi dan cerpen, saya jarang sekali melakukan riset. Namun dalam mencipta novel (fiksi) sejarah atau novel berlatar belakang sejarah, saya sering melakukan riset. Selain mengunjungi tempat-tempat bersejarah (petilasan), saya membaca buku-buku, menganalisa, dan mereinterpretasi sejarah yang selama ini diyakini sebagai fakta oleh masyarakat awam. Tentu, perinterpretasian sejarah tersebut tidak saya lakukan sembarangan, melainkan melalui analisis panjang.

Dari pendapat di muka, kemudian muncul satu pertanyaan, “Kenapa menulis novel sejarah dengan melakukan reinterpretasi sejarah?” Jawabannya sederhana. Karena novel sejarah bukan teks sejarah, maka saya harus melakukan reinterpretasi terhadap sejarah yang bersumber dari berbagai teori para sejarawan. Hal ini yang membedakan proses penulisan buku sejarah dengan penciptaaan novel sejarah.

           

Dari Riset hingga Reinterpretasi Sejarah

Disinggung di muka bahwa di dalam mencipta novel sejarah, saya sering melakukan riset atau mengunjungi tempat-tempat bersejarah (petilasan), membaca buku-buku, menganalisa, serta mereinterpretasi sejarah yang selama ini diyakini sebagai fakta oleh masyarakat awam.

Dengan melakukan riset tempat-tempat bersejarah, saya bisa memeroleh inspirasi perihal setting cerita yang akan dilukiskan ke dalam novel sejarah. Tentu saja di dalam melukiskan setting cerita tersebut tetap mendapatkan intervensi imajinasi subyektif. Mengingat tempat-tempat bersejarah yang saya kunjungi itu sudah mengalami banyak perubahan, dikarenakan putaran roda zaman.

Melalui buku-buku sejarah, saya dapat memeroleh data sejarah yang bersumber dari berbagai teori para sejarawan. Dari sana, saya dapat membandingkan antara teori satu dengan teori lainnya. Kemudian, saya melakukan analisis lebih jauh tentang teori sejarah dari para sejarawan yang paling mendekati suatu fakta.

Berangkat dari kerja analisis tersebut, saya dapat secara leluasa untuk melakukan reinterpretasi sejarah. Pengertian lain, saya mencoba memberikan fakta sejarah yang seringkali bertentangan dengan persepsi dari masyarakat awam. Hasil dari reinterpretasi sejarah itulah merupakan sumber ide untuk saya olah ke dalam karya novel sejarah.

Apa yang saya uraikan ini lebih tepatnya sebagai proses pra penciptaan novel sejarah. Sedangkan proses sewaktu penciptaan novel sejarah, saya tidak pernah menulis sinopsis. Mengingat alur cerita telah terekam di dalam memori. Karenanya dalam mencipta novel sejarah, saya menggunakan prinsip “mengalir saja”. Kenapa demikian? Karena, banyak hal tak terduga yang akan memberikan wow effect dalam novel tersebut dapat ditemukan.

Sungguhpun demikian, saya selalu melakukan revisi berulang kali sesudah novel sejarah itu digarap. Melalui revisi, novel sejarah yang saya cipta akan memiliki alur lebih dinamis dan gaya penceritaan lebih dahsyat. Itulah gunanya melalukan revisi sesudah novel sejarah dirampungkan. Melelahkan memang, sebagaimana membikin judul. Namun langkah itu harus dilakukan. Demi terwujudnya novel sejarah yang layak baca dan pantas diapresiasi publik.

 

Dari Novel Satu ke Novel Lain

Dalam pra penciptaan novel sejarah dengan judul (kisah) berbeda tentu memiliki proses kreatif yang berbeda pula. Karenanya, tempat-tempat bersejarah yang saya kunjungi serta buku-buku sejarah yang saya baca juga berbeda. Sungguhpun demikian, proses kreatif dalam pra penciptaan novel sejarah dengan judul (kisah) yang berbeda tetap memiliki prinsip sama yakni menempuh kedua proses itu.

Hal-hal menarik yang saya temukan selama melakukan riset terhadap tempat-tempat bersejarah ketika akan mencipta novel satu dengan novel lainnya sering berbeda. Sebagi misal, ketika saya akan mencipta novel berlatar belakang sejarah Mataram era pemerintahan Sultan Agung yang bertajuk Centhini: Malam Ketika Hujan (Pengembaraan Mas Cebolang), saya sempat diusir oleh salah seorang juru kunci Makam Raja-Raja Kota Gede karena menggelandang 2 malam 2 hari dan tidur siang di Bangsal Kencur. Sebagai gelandangan yang memahami bahwa lingkungan makam harus memberi kenyamanan bagi peziarah atau wisatawan, saya mengikuti perintah juru kunci itu untuk meninggalkan makam. Bukannya pergi dari lingkungan makam itu, tapi melanjutkan tidur sampai sore di area luar benteng makam. Tepatnya, di bangsal depan dekat ruang parkir di bawah naungan pohon Beringin tua (Ringin Sepuh) yang rimbun daunnya.

Selanjutnya sewaktu akan mencipta novel Zaman Gemblung (novel biografi R.Ng. Ranggawarsita III) yang kemudian diterbitkan Diva Press pada tahun 2011, saya yang disertai R. Toto Sugiharto bertemu dengan seorang juru kunci makam R.Ng. Ranggawarsita III (Palar, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah), yang “maaf” belum tahu silsilah sang pujangga. Menurut juru kunci (tidak perlu saya sebutkan namanya), kalau R.Ng. Ranggawarsita III merupakan putra Prabu Brawijaya (tidak menyebut Brawijaya ke berapa) sang raja Majapahit. Sebagai peziarah yang baik, saya yang pernah membaca literatur bahwa R.Ng. Ranggawarsita III (Bagus Burham) bukan putra Prabu Brawijaya melainkan putra Sudiradimeja (R. Ng. Ranggawarsita II) dan Pajangswara itu hanya mengiyakan. Dari sini, saya berpikir kalau setiap makam tokoh penting dalam sejarah Jawa (Nusantara) ditunggui oleh seorang juru kunci yang buta sejarah, maka peziarah awam akan terjebloskan ke dalam kesesatan sejarah.

Lain juru kunci makam R.Ng. Ranggawarsita III, lain pula juru kunci makam R.Ng. Ngabehi Yasadipura I (Bagus Banjar) dan R. Ng. Yasadipura II (Mas Pajangwarsita/Tumenggung Sastranagara/R.Ng. Ranggawarsita I) di Pengging, Boyolali, Jawa Tengah. Juru kunci makam yang melek sejarah itu mengisahkan kepada saya tentang hubungan R.Ng. Yasadipura I dan R.Ng. Yasadipura II dengan R.Ng. Ranggawarsita III sesuai dengan yang saya baca dalam buku sejarah. Di mana R.Ng. Yasadipura I merupakan kakek buyut R.Ng. Ranggawarsita III, dan R.Ng. Yasadipura II merupakan kakek R.Ng. Ranggawarsita III. Pengisahan juru kunci tentang silsilah R.Ng. Ranggawarsita III baru benar dan tidak menyesatkan.

Kembali pada proses penciptaan Centhini: Malam Ketika Hujan. Hal paling menarik ketika sedang mencipta novel Centhini: Malam Ketika Hujan, saya melakukan klayapan sambil mengandaikan diri sebagai tokoh Mas Cebolang (putra Syekh Akadiyat dari Padhepokan Sokayasa di kaki Gunung Bisma). Mendatangi salah satu tempat ziarah di Yogyakarta sebagaimana pernah dikunjungi oleh Mas Cebolang beserta empat orang santri Sokayasa, yakni: Palakarti, Kartipala, Saloka, dan Nurwiti.

Sisi menariknya saat klayapan di beberapa tempat ziarah, saya mulai tahu bahwa sudah terdapat beberapa tempat ziarah yang mirip Gunung Kemukus. Beberapa tempat ziarah itu bukan hanya didatangi para peziarah asli, namun pula para pelacur atau peselingkuh. Fakta ini yang kemudian menginspirasi saya untuk membumbui novel Centhini: Malam Ketika Hujan dengan kisah petualangan seks Mas Cebolang dan peziarah perempuan berstatus janda. Tentu saja hubungan seks antara Mas Cebolang dengan janda itu tidak dilakukan di makam yang masih dianggap sakral (takut kuwalat), melainkan di rumah si janda.

Selain tempat-tempat ziarah, saya juga melakukan klayapan ke lokalisasi-lokalisasi liar. Hal ini sekadar ingin mengetahui tentang penyakit kelamin ‘sipilis’ sebagaimana yang diderita Mas Cebolang. Menurut salah seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) yang saya temui di salah satu lokalisasi liar di Yogyakarta, bahwa penyakit kelamin ‘sipilis’ itu ditularkan pertama kali oleh lelaki hidung belang. Bukan dari seorang PSK. Mengingat seluruh PSK selalu mengontrolkan kesehatan kelaminnya secara rutin. Dari sini, saya dapat mengatakan bahwa di era Mas Cebolang, banyak PSK yang tidak memiliki kesadaran akan kesehatan kelaminnya. Selain itu, belum ada Dinas Kesehatan yang melakukan kontrol secara intensif terhadap kesehatan para PSK yang menjadi penghuni lokalisasi-lokalisasi liar.

Dari proses penciptaan novel satu ke novel lainnya yang saya tempuh melalui klayapan ke tempat-tempat ziarah maupun lokalisasi liar tersebut kiranya tidak hanya berguna untuk melengkapi data dalam penciptaan novel, melainkan pula dapat memberikan pengetahuan baru serta pengalaman menarik, unik, dan terkadang getir yang sangat bermanfaat bagi saya di dalam proses kreatif di bidang garap kesusastraan.

 

Mengantitesa Serat Centhini

Membaca Serat Centhini yang disusun oleh R.Ng Ranggasutrasna, R.Ng Yasadipura II, dan R.Ng Sastradipura, Pangeran Jungut Manduraja, dan Kyai Mohammad di bawah koordinasi Raden Mas Sugandi (Sri SusuhunanPakubuwana V) yang berlatar belakang sejarah Kesultanan Mataram di era pemerintahan Sultan Agung; saya menangkap bahwa tokoh Centhini sekadar menyimbolkan sosok perempuan berpredikat babu yang tidak memiliki kemerdekaan penuh. Sampai dalam persoalan jodoh, Centhini pun harus mengikuti perintah Syekh Amongraga (Jayengresmi) untuk menikah dengan Monthel (nama asli: Buras). Seorang abdi yang mengikuti pelarian Jayengsari dan Niken Rancangkapi (adik Jayengresmi) ketika Giri Parapen ditaklukkan oleh sepasang panglima perang Kesultanan Mataram – Pangeran Pekik dari Surabaya (menantu Sultan Agung) dan Ratu Pandansari (putri Sultan Agung).

Melihat realitas getir nasib Centhini dalam Serat Centhini gubahan pujangga Surakarta tersebut, saya menangkap sebagai laku prihatin dari seorang babu yang kelak menuai buah termanisnya. Berdasarkan persepsi tersebut, saya mencipta novel Centhini: Perempuan Sang Penakluk di Langit Jurang Jangkung (Araska Publisher, 2012). Novel yang mengisahkan tentang perjuangan Kinanthi atau Nyi Sendhang Klampeyan (tokoh baru yang saya munculkan dan tidak ada dalam Serat Centhini), anak perempuan Centhini dan Monthel, yang menjadi guru di Desa Jurang Jangkung sesudah suntuk menuntut ilmu pada Jayengresmi (putra Ki Bayi Panurta) dan melaksanakan laku spiritual dengan tapa kungkum 40 malam 40 hari di Sendhang Klampeyan. Melalui novel tersebut, saya ingin menunjukkan bahwa derajat manusia akan terangkat bila melakukan prihatian. Sungguhpun yang memetik buahnya bukan orang tua kandungnya, melainkan anak keturunannya. Pendapat ini dibenarkan oleh orang-orang tua yang sering melakukan prihatian.

Melalui novel Centhini: Perempuan Sang Penakluk di Langit Jurang Jangkung, saya sengaja melakukan antitesa terhadap naskah Centhini yang cenderung memosisikan perempuan sebagai kanca wingking (obyek penderita lelaki). Karenanya melalui novel tersebut, saya menjunjung martabat tokoh-tokoh perempuan, seperti: Ratu Pandansari, Niken Rancangkapti, Niken Tambangraras, Centhini, Dewi Kilisuci, Ganda Arum, dan Kinanthi sebagai manusia pemberani, pejuang, dan imansipator nasib kaumnya.

Penciptaan novel Centhini: Perempuan Sang Penakluk di Langit Jurang Jangkung yang saya lakukan bukan sekadar bertujuan untuk membuat antitesa terhadap peran perempuan dalam Serat Centhini, melainkan pula untuk menyelaraskan realitas kehidupan perempuan pada zamannya. Di mana di zaman modern, perempuan senantiasa menolak untuk menjadi kanca wingking dan sekadar sebagai obyek eksploitasi kaum pria. Akan tetapi, perempuan modern cenderung sebagai sosok pemberani, pejuang, pembaharu, dan imansipator. Sehingga kedudukan antara kaum perempuan dan kaum pria adalah sederajat.

 

Pengalaman Mistik

Dari semua yang saya kemukakan di atas sekadar bagian dari proses kreatif saya selama menulis novel sejarah (berlatar belakang sejarah). Namun selama menulis novel sejarah, tidak ada pengalaman yang paling menarik selain pengalaman mistik yang tidak pernah saya lupakan sampai sekarang. Pengalaman mistik itu muncul, ketika saya sedang menyelesaikan novel Zaman Gemblung. Novel biografi R.Ng. Ranggawarsita III.

Pada jam 2 dini hari (hari dan tanggalnya saya lupa), ketika saya sedang menyelesaikan kisah meninggalnya R.Ng. Ranggawarsita III, sempat mencium aroma kemenyan jawa yang menyeruak dari luar rumah, tepatnya di luar jendela ruang kerja saya. Aroma kemenyan itu, bukan hanya saya yang mencium, namun pula istri saya yang masih menonton tivi.

Karena rasa penasaran, saya keluar rumah. Sesudah mengelilingi rumah, saya tak menemukan seorang yang tengah membakar kemenyan. Seusai aroma kemenyan itu mendadak tak tercium lagi, saya kembali ke ruang kerja untuk melanjutkan menulis. Selama menulis sampai fajar tiba, saya terus bertanya dalam hati. “Siapakah gerangan yang membakar kemenyan itu? Apakah aroma kemenyan itu merupakan bentuk interaksi antara saya dengan ingkang swargi (almarhum) Ranggawarsita III?” Sampai sekarang, saya belum berhasil menemukan jawabannya yang pasti.

Peristiwa mistik yang saya alami sewaktu menggarap novel Zaman Gemblung adalah satu-satunya pengalaman paling menarik selama saya terjun dalam penciptaan novel sejarah. Bahkan pengalaman mistik itu tidak pernah saya alami sewaktu menulis cerita hantu (horor) untuk beberapa penerbit di Yogyakarta. Dapat pula dikatakan, bahwa pengalaman mistik itu merupakan pengalaman paling berkesan selama saya menekuni dunia kepenulisan dalam berbagai genre sastra semenjak tahun 1984 hingga sekarang.

 

Catatatan Akhir

Selain ketiga novel (Centhini: Malam Ketika Hujan, Zaman Gemblung, dan Centhini: Perempuan Sang Penakluk di Langit Jurang Jangkung) yang telah dijelaskan tentang proses kreatif serta pengalaman pra dan ketika penulisannya, saya masih memiliki 4 novel sejarah (berlatar belakang sejarah) yang sudah diterbitkan, yakni: Dharmacinta (Laksana, 2011); Sabdapalon (Araska, 2011); Dharma Gandul: Sabda Pamungkas dari Guru Sabdajati (Araska Publisher, 2012); Ratu Kalinyamat: Tapa Wuda Asinjang Rikma (Araska Publisher, 2012), dan Kiamat: Petaka di Negeri Madyantara (In AzNa Books, 2012).

Selepas tahun 2012, novel sejarah tampaknya kurang diminati penerbit karena pasarnya mulai sepi. Akibatnya, 4 novel sejarah (berlatar belakang sejarah) saya yang bertajuk Rajawali yang Melintasi Badai, Jaka Satru, Gatoloco Gugat, dan Ranggawarsita: Suluk Sungsang Bawana Balik, sungguhpun sudah dibeli lunas oleh penerbit, namun belum terbit sampai sekarang.

Mengingat novel sejarah kurang diminati penerbit, saya tetap menulis novel, namun tidak lagi bertema sejarah. Sungguhpun tidak lagi menulis novel sejarah, saya yang terlanjur tertarik dengan sejarah mencoba beralih menulis buku-buku sejarah, khususnya sejarah raja-raja (kerajaan-kerajaan) Jawa dan Nusantara. Tidak saya duga bahwa buku-buku sejarah yang saya tulis tersebut diminati oleh salah satu penerbit di Yogyakarta. Dari situlah, saya memerkirakan bahwa publik mulai lebih tertarik buku sejarah ketimbang novel sejarah.

Dari tahun 2013 hingga 2016, saya lebih memilih menulis buku sejarah ketimbang novel sejarah. Sehingga dalam 3 tahun, saya bisa menulis 12 buku sejarah, yakni: Sejarah Kejayaan Singhasari & Kitab Para Datu (Araska Publisher, 2013); Babad Tanah Jawa: Dari Nabi Adam hingga Mataram Islam (Araska Publisher, 2014); Sejarah Raja-Raja Jawa (Araska Publisher, 2014); Geger Bumi Mataram (Araska Publisher, 2014); Geger Bumi Majapahit (Araska Publisher, 2014); Sejarah Panjang Perang di Bumi Jawa (Araska Publisher, 2014); Sejarah Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan di Nusantara (Araska Publisher, 2014); Ensklopedia Raja-Raja Nusantara (Araska Publisher, 2014); Politik dalam Sejarah Kerajaan Jawa (Araska Publisher, 2016); Babad Giyanti: Palihan Nagari dan Perjanjian Salatiga (Araska Publisher, 2016), 13 Raja Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Kerajaan di Tanah Jawa (Araska Publisher, 2016), dan Sejarah Kerajaan-Kerajaan Besar di Nusantara (Araska Publisher, 2016).

Sungguhpun sudah tidak menulis novel sejarah, namun saya tetap menulis novel dengan tema lain sambil memikirkan novel bertema apa (horor, detektif, silat, atau lainnya) yang bakal booming di era mendatang. Barangkali, pemikiran itu terkesan naif. Namun bagi novelis yang ingin karyanya laku di pasaran, pertanyaan  itu menjadi penting. Mengingat apa arti menulis novel bila tidak ada penerbit mayor yang mau menerbitkan dikarenakan pasar tidak menghendakinya. Karenanya demi keberlangsungan proses kreatif, seorang novelis harus cerdas di dalam membaca dinamika selera publik yang sangat menentukan kebijakan penerbit di dalam memublikasikan novel dengan tema tertentu. (Sri Wintala Achmad)

Cilacap, 1 Januari 2016

 

Sumber: Njajah Desa Milang Kori: Proses Kreatif Novelis Yogyakarta, Balai Bahasa Yogyakarta, 2017.

 

DARI PUISI RADIO HINGGA SASTRA DUA (TIGA) BAHASA

SEJAK be14482311_632179770287105_4903447862718758912_nrusia kanak, saya tidak pernah berpikir menjadi penulis, terutama karya sastra, sebagaimana sekarang. Semasih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Negeri Balecatur, saya lebih tertarik dengan seni lukis. Kemudian saya tinggalkan seni lukis sesudah berkenalan dengan pelajaran ekstrakurikuler teater asuhan Heru Siswanto di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Balecatur.

Waktu itu, saya berpikir bahwa ketertarikan saya dengan teater dimungkinkan darah kesenian Ayah “Amat Dinama” di bidang teater tradisional emprak “Langen Ambiya” yang mengalir di dalam jiwa dan raga saya. Tetapi, itu hanya pikiran naif dari seorang bocah yang belum tumbuh dewasa.

Ketertarikan saya untuk mempelajari teater terus berlanjut sewaktu terdaftar sebagai siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Yogyakarta. Di sekolah yang berada di naungan Departemen Agama itu, saya mendapat bimbingan teater dari Poel Syaibani. Guru ekstrakurikuler teater yang sangat familiar, tegas, dan selalu mengajarkan kedisiplinan pada setiap anak didik.

Bermula dari teater, saya selalu menjadi duta sekolah untuk mengkuti lomba baca puisi baik yang diselenggarakan oleh sekolah lain maupun kampus. Dengan seringnya mempelajari puisi dari bebeberapa penyair kondang Indonesia, semisal: WS. Rendra, Chairil Anwar, Piek Ardiyanto Masardi, Sapardi Djoko Damono, Subagya Sastra Wardaya, dll yang akan dijadikan materi lomba; saya mulai tertarik dengan puisi. Bukan sebatas membaca, melainkan menulis puisi gubahan sendiri.

Puisi Radio

            Menulis puisi telah menjadi aktivitas rutin saya semenjak duduk di bangku kelas 2 MAN II Yogyakarta (1984). Dari seringnya menulis puisi, timbullah kesadaran saya untuk mempublikasikannya di media massa. Untuk itu, saya mengirimkan puisi ke koran dan majalah. Berulangkali puisi saya kirimkan, berulangkali koran dan majalah tidak memuatnya.

Berpijak pada fakta di muka, saya berpikir keras untuk mendapatkan media alternatif yang bersedia mempublikasikan puisi saya. Karena waktu itu banyak radio swasta di Yogyakarta, semisal: Retjo Buntung, Angkatan Muda, Arma Sebelas, Persatuan Bantul, Bikima, dan Rasialima menyiarkan acara baca puisi, maka saya mencoba untuk mengirimkan puisi-puisi saya ke salah satu radio. Hasilnya positif. Beberapa puisi saya yang lolos seleksi dibacakan (diudarakan/dipublikasikan) untuk pertama kalinya oleh Grill. Seorang pengasuh acara pembacaan puisi di radio Angkatan Muda.

Kurang puas saat puisi dibacakan oleh orang lain, maka saya berusaha untuk membacakan puisi sendiri lewat radio. Karenanya sepulang dari sekolah yang terletak di Ngampilan, saya harus berjalan kaki menuju Radio Retjobuntung di wilayah Jagalan. Mengikuti rekaman baca puisi sebelum disiarkan dalam acara Lembar Sastra dan Budaya asuhan Esti Pritt. Hasilnya lebih memuaskan. Karena selain dapat mempelajari sejauh mana capaian kualitas puisi yang saya tulis, saya dapat mengetahui sejauh mana kualitas saya dalam membacakannya. Melalui Radio Retjobuntung itulah, saya dapat belajar secara otodidak tentang puisi.

Selain Radio Retjobuntung, saya mempublikasikan puisi melalui Radio Rasialima. Di bawah asuhan Bambang Sareh Atmadja (Bambang Sutejo), saya tidak hanya membacakan puisi-puisi karya sendiri, namun pula turut mengasuh acara Cakrawala Puisi dan Apresiasi. Berkat acara tersebut, Radio Rasialima yang bekerjasama dengan Kartapustaka kemudian menerbitkan Antolologi Puisi “Pelangi”. Selain saya, Antologi Puisi “Pelangi” yang terbit pada tahun 1988 itu melibatkan enam penyair muda, yakni: Dwi Atmi Rini Djayanti, Hananto Kusumo, Hotmida Rosmawati Malaow, Petrus J. Prihanto, Singgih S. Sumaryadi, dan Tatang Yudiatmoko. Berdasarkan sejarah awal saya dalam bidang penciptaan puisi ini, maka tidak salah kalau ada seorang yang mengatakan bahwa kepenyairan saya berawal dari radio.

Puisi Koran

Seorang mengatakan bahwa pengalaman terindah bagi setiap penulis karya sastra saat pertama kali karyanya dimuat di media massa cetak (koran). Ada benarnya perkataan itu. Mengingat sewaktu puisi-puisi saya dimuat pertama kali di harian Masa Kini (1988), hati saya berbunga-bunga. Merasa usaha saya untuk terus menulis puisi dan mengirimkannya ke koran-koran selama sekian tahun tidak menjadi sia-sia.

Sungguh! Saya rasakan waktu itu, dunia sastra koran mulai membuka pintunya bagi kedatangan saya yang sekian lama berhelat di dunia sastra radio. Mengingat sejak salah satu media massa (Masakini) memuat puisi-puisi saya, media massa lainnya semisal Berita Nasional (Bernas) kemudian memuatnya. Entah mengapa bisa begitu? Ini adalah misteri yang belum bisa saya pahami sampai sekarang. Berikut salah satu puisi yang saya kirim ke harian Berita Nasional pada tahun 1997 dan baru dimuat pada tahun 1988:

SAJAK LELAKI TUA

 

Duduklah lelaki tua

dan berkata:

 

“Sudah kuangkat tangan kanan

            hingga menyentuh ketiak langit

Titilah!

Jari-jarinya masih utuh lima

Bukankah jari-jari itu dewa

            selalu dipuja dalam gereja

Bukankah jari-jari itu topeng

            selalu dipakai

            tuk membalut bopeng dan koreng

Bukan!”

 

Berdirilah lelaki tua

lalu pergi

 

1997

 

Sesudah dua koran di Yogyakarta memuat puisi-puisi saya, saya semakin gigih untuk meningkatkan kualitas karya. Upaya ini saya maksudkan agar koran-koran lain berkenan memuat puisi-puisi saya. Dari upaya yang tanpa mengenal putus asa itu, arkian puisi-puisi saya tidak hanya mampu menembus media massa daerah, namun pula media massa pusat. Ini merupakan buah termanis yang saya nikmati sesudah sekian lama setia merawat tanamannya.

Empat Laku

Berhasilnya tujuan dalam memublikasikan puisi baik di media massa daerah maupun pusat tersebut tidak dapat dilepaskan dari upaya yang saya lakukan untuk terus meningkatkan kualitas karya. Suatu upaya positif yang saya tempuh dengan empat laku, yakni:

Pertama, membaca puisi dari penyair lain. Melalui laku ini, saya dapat belajar berbagai ragam tipografi, gaya bahasa, diksi, dan kekhasan dalam penulisan puisi dari penyair lain. Dari sana, pengetahuan saya tentang puisi yang memenuhi standar kualitatif semakin luas. Dari sana pula, saya serasa dituntut untuk mencipta puisi dengan tipografi, gaya bahasa, diksi, dan kekhasan yang mencerminkan kepribadian saya sendiri.

Kedua, melakukan otokritik terhadap puisi sendiri. Dengan laku ini, saya dapat mengetahui puisi pribadi yang belum atau yang sudah memenuhi standar kualitatif. Apabila belum memenuhi standar kualitatif, maka saya harus berulangkali merevisinya. Andaikan revisi yang saya lakukan tidak berhasil menyempurnakan puisi itu, maka saya menganggapnya sebagai karya gagal yang tidak perlu dibuang. Sebab itu, saya merasa malu pada diri sendiri saat melabuh ribuan puisi yang saya anggap sebagai karya gagal ke Pantai Parangkusuma (1990). Selain malu, saya tidak dapat berkaca pada sebagian sejarah masa silam saya yang hilang.

Ketiga, meningkatkan interaksi kreatif dengan sesama penyair (sastrawan). Berkat kesadaran atas laku ini, saya melakukan interaksi kreatif dan berdiskusi tentang penciptaan puisi dengan beberapa penyair yang telah makan banyak asam-garam, semisal: Fauzi Absal, Suryanto Sastro Atmodjo, dan Kuswahyo SS Rahardjo. Selain itu, saya sering melibatkan diri dalam diskusi sastra baik yang diselenggarakan oleh Sanggar Yoga Sastrapress (SYS) asuhan Ragil Suwarno Pragolapati maupun Forum Pengadilan Puisi Yogyakarta pada penghujung sampai awal dekade 90-an. Melalui diskusi sastra tersebut, saya dapat mencerap ilmu tentang penciptaan puisi yang baik dari para suhu sastra.

Keempat, menjalankan olah batin. Dengan menjalankan olah batin sebagaimana yang disarankan RPA Suryanto Sastra Atmadja baik melalui lelana brata (mengembara) maupun tapa brata (meditasi), saya dapat menemukan ide-ide cemerlang untuk dituang ke dalam karya sastra bergenre puisi. Tidak terduga, ternyata olah batin mampu menjadikan puisi-puisi yang saya ciptakan serasa memiliki roh dan getar hayati.

Menulis Geguritan Sesudah Sakit

Pada tahun 1993-1995, interaksi kreatif saya dengan para kawan penyair mulai terputus karena lama menderita sakit. Tubuh saya menjadi lemah. Jiwa saya dalam kecemasan. Bila malam, tubuh saya yang selalu demam tidak dapat ditidurkan. Kalau sempat tertidur, saya mengalami tindhihen (kelumpuhan tidur). Hingga suatu malam, serasa ada makhluk berbau amis menindih tubuh saya. Akibatnya, tubuh saya tidak bisa digerakkan. Baru bisa digerakkan, sesudah saya yang berada di antara jaga dan tidur melafalkan “Allahu Akbar” secara berulang-ulang, sambil mengirimkan kekuatan dzikir itu pada bagian tubuh yang tindhihen.

Entah energi apa yang mendorong saya untuk kembali menulis puisi selama sakit. Namun setiap saya mencoba, saya selalu gagal untuk menulis puisi yang baik. Mengingat puisi-puisi yang saya ciptakan itu sekadar mengekspresikan keluhan-keluhan sakit saya. Sungguhpun demikian, puisi-puisi yang tidak jauh berbeda dengan catatan harian itu dapat mengurangi kecemasan jiwa saya. Hingga lambat-laun, penyakit saya sembuh total.

Sesudah sembuh dari sakit, tiba-tiba saya tertarik untuk kembali menulis geguritan (puisi yang menggunakan Bahasa Jawa). Anehnya! Sebelum sakit, saya tidak pernah berhasil mencipta geguritan. Namun sesudah sembuh, saya dapat menulis geguritan dengan mudah. Tidak terbata-bata lagi, saat memilih kata-kata dalam Bahasa Jawa yang tepat untuk dirangkai menjadi satu geguritan. Berikut geguritan yang saya tulis dan dimuat pertama kali di Kalawarti Basa Jawa Jaka Lodang pada tahun 1995:

 

MAIN REMI

 

Nasib digegem dhewe-dhewe

Sawetara pangarep-arep adoh ngumbara

Ngantu-antu Joker: pulunge urip

Tumeka pungkasane laku

 

Nasib dibanting-banting

Rika kasabaran ilang ing dhadha

Rikala Joker mrucut saka panjangka

Ah, kasunyatan kaya taline wektu: njiret jangga

 

Nasib ora beda teka-teki silang

Kadhangkala mleset kabatang, nanging

Siji kang ora bakal luput. Urip iki

Mung sadrema nampa kartu kang kadumdumake

 

Ngayogyakarta, 25 Juli 1995

 

Menulis dengan Dua hingga Tiga Bahasa

            Sejak geguritan-geguritan saya dimuat di berbagai media massa, saya mulai menulis puisi dengan dua bahasa, terkadang menggunakan Bahasa Indonesia dan terkadang menggunakan Bahasa Jawa. Selanjutnya kapan saya menulis puisi dengan menggunakan Bahasa Jawa, dan kapan saya menulis puisi dengan menggunakan Bahasa Indonesia sangat berkaitan dengan ide. Bila ide itu sangat tepat untuk dituang menjadi puisi berbahasa Jawa, maka saya menggunakan Bahasa Jawa. Bila ide itu lebih selaras bila diekspresikan ke dalam  puisi berbahasa Indonesia, maka saya menggunakan Bahasa Indonesia.

Bagi saya, menulis puisi baik dengan Bahasa Jawa maupun Indonesia manimbulkan rasa asyik yang sama. Sungguhpun beberapa kawan, salah satunya Otto Sukatno Cr, berkomentar bahwa geguritan-geguritan saya lebih cerdas ketimbang puisi-puisi saya. Sebagai apresian, komentar Otto dan beberapa kawan saya itu syah-syah saja. Meskipun ditandaskan sekali lagi, saya tidak pernah ban cindhe ban siladan dalam menciptakan geguritan dan puisi.

Dalam perkembangannya, saya tetap tidak membeda-bedakan dalam penciptaan karya sastra berbahasa Jawa (geguritan dan cerkak) maupun berbahasa Indonesia (puisi dan cerpen). Pilihan saya untuk menulis karya sastra dengan Bahasa Jawa dan Indonesia ini muncul dari kesadaran bahwa seorang sastrawan yang hidup di lingkup budaya tradisi dan budaya nusantara harus mampu mengekspresikan karya-karyanya dengan menggunakan dua bahasa. Bahkan secara ideal, seorang sastrawan harus mampu menggunakan Bahasa Inggris sebagai media ekspresi kreatif di dalam penciptaan karya-karyanya. Sehingga di dalam mempublikasikan karya-karyanya di lingkup internasional, seorang sastrawan tidak lagi berharap bantuan dari penerjemah.

Pendapat saya bahwa seyogyanya sastrawan mampu menggunakan Bahasa Inggris dalam menulis karya sastra tersebut merupakan hasil diskusi saya dengan Kuswahyo SS Rahardjo. Dari hasil diskusi itu, saya kemudian mencoba untuk menulis dan mempublikasikan puisi-puisi berbahasa Inggris ke Australia Indonesian Arts Aliance (AIAA) dan beberapa media online lainnya. Berikut salah satu puisi berbahasa Inggris saya yang dimuat di AIAA:

 

THE METAPHOR OF STATUE

 

The old night

As old as my age

No awful poems

I’d created

 

The morning time

Will come soon

But MS Word’s page

Still has no words

 

If the sun’s come

Tell that I’m just a statue

Be nice if you see at a glance

in my death of life

 

Indonesia, December 19th, 2011

 

Catatan Akhir

            Apa yang telah dikemukakan di atas sekadar gambaran tentang proses kreatif awal saya dalam bidang kepenulisan yang diawali dengan karya sastra. Mengingat sejak tahun 2000, saya tidak hanya menulis karya sastra, namun pula esai mengenai seni rupa, seni tradisi, dan kebudayaan Jawa. Bahkan pasca tahun 2009, saya mulai merambah pada penulisan novel serta buku tentang sejarah, cerita wayang, tradisi Jawa, dan studi Bahasa Indonesia.

Sungguhpun sekarang saya lebih banyak menulis buku, namun saya tetap menulis karya sastra. Kedua aktivitas tersebut harus berjalan beriringan. Dus, dengan menulis karya sastra, batin saya akan mendapatkan nutrisi. Dengan menulis buku, kebutuhan ekonomis keluarga saya dapat tertopang. Selain itu, hasil finansial dari menulis buku dapat memberikan kenyamanan bagi saya untuk terus berkarya sastra tanpa ada gangguan persoalan ekonomis keluarga. [Sri Wintala Achmad]

 

Cilacap, 5-15 Maret 2016

 

Dikutip dari Buku Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku (Proses Kreatif Sastrawan Yogyakarta, Balai Bahasa Yogyakarta, 2016)

Sumber foto:

http://www.imgrum.org/user/gamelankiaikanjeng/414207327/1347613152502554541_414207327